Berita

Truecaller: Indonesia Tempati Urutan Ketiga Panggilan Spam dan Penipuan

Ilustrasi (Istimewa)

SUARA ASIA – Upaya penipuan melalui panggilan telepon di Indonesia kian marak seiring dengan lonjakan frekuensi panggilan telepon spam dalam setahun terakhir.

Seiring maraknya panggilan spam dan penipuan yang terjadi di negeri ini, dimana Indonesia menempati urutan ketiga, naik tajam dari peringkat ke-16 pada 2018, sehingga regulasi regristrasi kartu prabaya menjadi sorotan.

Hal itu diketahui dari Truecaller, aplikasi yang mampu mendeteksi nama penelepon anonim yang merilis sebuah laporan 20 negara yang paling sering menerima panggilan spam dan penipuan.

Frekuensi panggilan telepon spam di Indonesia, menurut Truecaller, naik dari nyaris 10 kali per orang per bulan pada 2018 menjadi sekitar 28 kali per orang per bulan pada 2019.

Tren ini cukup mengkhawatirkan, dimana porsi panggilan spam dengan tujuan penipuan meningkat lebih dari dua kali lipat dalam setahun terakhir. Pada 2018 saja, tercatat 10% dari panggilan spam yang merupakan upaya penipuan. Tahun ini, upaya penipuan berkontribusi atas 21% dari panggilan spam.

Direktur Utama PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (Telkom) Ririek Adriansyah mengatakan, salah satu cara terbaik untuk mengatasi permasalahan tersebut adalah dengan memperketat registrasi kartu prabayar sehingga pengguna kartu prabayar akan lebih bertanggung jawab dan mudah dilacak.

“Kami juga sudah berusaha untuk melakukan blokir bagi nomor yang diadukan sebagai nomor untuk penipuan maupun tindakan illegal lainnya,” kata Ririek dilansir Bisnis.com, Kamis (5/12) lalu.

Sekadar diketahui, spam adalah pesan singkat, surat elektronik, dan panggilan telepon yang dilakukan ke beragam nomor dan alamat secara massal dengan tujuan pemasaran atau penipuan.

Truecaller mengumpulkan data secara anonim dari panggilan masuk yang telah ditandai sebagai spam oleh pengguna, atau secara otomatis ditandai oleh Truecaller, dalam periode 1 Januari 2019 hingga 30 Oktober 2019.

Selain itu, Truecaller Insights Report 2019 juga menunjukkan bahwa Indonesia berada di posisi ke-10 sebagai negara penerima SMS spam terbanyak di dunia.

Rata-rata, satu orang Indonesia menerima 46 SMS spam setiap bulan. Tiga negara dengan jumlah SMS spam terbanyak di dunia semuanya berasal dari Benua Afrika, yaitu Ethiopia (119), Afrika Selatan (114), dan Kenya (102).

Negara tetangga Malaysia adalah negara penerima spam terbanyak kedua di Asia Tenggara. Malaysia menempati posisi ke-19 untuk penerima panggilan spam dan posisi ke-15 untuk penerima SMS spam terbanyak di dunia.

Dibandingkan dengan Indonesia, orang Malaysia rata-rata hanya menerima 8,3 panggilan spam dan 24 SMS spam setiap bulan. Namun, laporan Truecaller mengungkapkan bahwa Malaysia mencatatkan persentase panggilan penipuan tertinggi di dunia.

Sekitar 63 persen panggilan spam di Malaysia bersifat penipuan, sebagian besar terkait dengan asuransi palsu dan panggilan penagih utang. Negara-negara lain yang paling banyak menerima panggilan scam adalah Australia (60 persen), Lebanon (49 persen), dan Kanada (48 persen).

“Seperti yang terlihat dalam laporan kami dari tahun ke tahun, angka penipuan melalui telepon maupun SMS terus meningkat secara signifikan di Indonesia,” kata Kim Fai Kok, Director of Communications Truecaller. melalui keterangan resminya. (*)

 

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top