Internasional

Setelah Muslim, Kini Giliran Umat Kristen Dilarang Israel ke Betlehem Rayakan Natal

Ilustrasi (Dok Haaretz)

ISRAEL – Setelah Pemerintah Militer Israel menutup Masjid Ibrahimi di selatan Kota Hebron, Tepi Barat untuk muslim belum lama ini, kini giliran umat Kristen Ortodoks di Gaza dilarang berkunjung ke Betlehem di Tepi Barat untuk merayakan Natal tahun ini.

Hal itu disampaikan oleh juru bicara Koordinator Kegiatan Pemerintah di Wilayah (COGAT), seperti dikuitp dari Times of Israel, Senin (16/12/2019).

“Demi alasan keamanan, izin hanya akan dikeluarkan bagi warga yang melakukan perjalanan ke luar negeri selama festival Kristen, tetapi tidak ke Israel atau Tepi Barat,” kata juru bicara Koordinator COGAT.

Keputusan tahun ini adalah sebuah perubahan dari kebijakan biasa bagi Israel.

Lain hal yang dialami Hatem Al-Far (51) yang tak kunjung mendapat izin dari pemerintah Israel untuk merayakan Natal di Betlehem bersama istri dan anak-anaknya. Larangan itu sudah empat tahun lamanya dialami Al-Far yang tinggal di Gaza.

“Natal merupakan peluang bertemu yang sangat penting untuk kami sebagai keluarga. Saya tidak tahu apa alasan mencegah saya tidak mendapat izin masuk ke Gereja Nativity dan bersembahyang di sana. Tepi Barat merupakan bagian dari Palestina, tidak ada alasan logis untuk mencegah umat Kristen brkunjung dan tinggal di sana jika dia berharap,” kata Al-Far sebagaimana dilaporkan Arab News, 16 Dsember 2019.

Sebelumnya, Israel memang mengumumkan bahwa umat Kristen di Gaza tidak akan diizinkan mengunjungi kota suci itu untuk pertama kali.

Diketahui, Gaza dihuni sekitar seribu umat Kristen, sebagian besar mereka penganut Kristen Ortodoks Yunani. Populasi Gaza sekitar 2 juta orang.

Sekalipun Israel memberi izin untuk meninggalkan Gaza, tapi izin itu tidak menjamin seluruh keluarga akan boleh berkunjung selama liburan Natal.

“Israel mempraktekkan semua bentuk represi dan kekerasan terhadap warga Palestina, tidak peduli agama dan jenis kelamin mereka,” kata Hani Fara, Sekretaris Jenderal YMCA di Gaza. |*

 

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top