Esai

Besok Kita Bawa Ibu ke Panti Jompo!

Ilustrasi (Dok Istimewa)

SUARA ASIA – Sepasang suami istri yang kaya raya, sebut saja Prabu dan Nanda. Suatu waktu, mereka melihat ruang makan yang kotor dan tercium bau aroma tidak sedap “pesing” saat masuk ke dalam rumah mewahnya.

Sementara di sudut meja makan terlihat seorang ibu tua sedang berusaha keras untuk bisa menyapu.

Sang Istri bersuara keras membentak ibu tua itu, sembari berkata kasar, ” Ini pasti ulah ibu, kan?, Ibu ngompol di lantai kan? Lihat tuh, meja kotor, makanan tercecer dimana-mana, lantai juga, Waduuuuuh. Ibu… ibu! ini rumah bukan gudang, ibu,” bentak Nanda dengan raut wajah marah dan geram.

Sang suami yang mendengar suara itu, mercoba menenangkan istrinya sembari berujar, “Sudahlah mama, jangan bentak ibu seperti itu, kasian, bu kan sudah tua,” imbuh Prabu sembari menenangkan Nanda.

“Tidak bisa begini terus- menerus. Kalau tiba-tiba ada tamu yang datang apa jadinya?,” sahut sang istri yang penuhi kemarahan.

“Sebaiknya besok kita bawa ibu ke panti jompo. Saya akan bawa!,” tambah dia.

Mendengar kalimat itu, Prabu seakan tak percaya, Nanda setegah itu mengusir ibu kandungnya dari rumah.

“Jangan ma! Itu kan ibumu, masa’ dibawa ke panti jompo,” pinta Prabu dengan mata yang berkaca-kaca.

Hari itu pun telah tiba, dimana ibu yang membesarkan anak perempuannya dengan penuh kasih sayang dibalas dengan kepedihan, di masa tuanya ia dititip di panti jompo.

Setelah ibu tua itu dibawa ke panti jompo, si istri membenahi merapikan kamar ibunya.

Tak sengaja ia temukan sebuah buku lusuh dengan kertas yang agak kuning kusam di bawah kasur ibunya.

Dia pun tertarik, melihat ada foto dirinya sejak kecil dan remaja, di halaman depan bertuliskan judul buku “Putriku Buah Hatiku”. Nanda pun terduduk lesu setelah membaca tulisan ibunya itu.

“Di awali hari dan tanggal lahir dia. ‘Aku melahirkan putriku, biar terasa sakit dan mandi darah, aku bangga bisa punya anak” Ya…..aku bangga bisa berjuang tanpa suami yang telah mendahuluiku. Aku rawat dengan cinta, aku besarkan dengan kasih, aku sekolahkan dengan airmata, aku hidupi dia dengan cucuran keringat,” tulis ibunya.

“Kuingat, ketika kubawa ke klinik untuk imunisasi, di atas angkot dia nangis, lalu kubuka kancing blus dan susui dia, aku tak merasa malu, bahkan tiba-tiba dia kencingi aku, tapi biarlah,” lanjut dia dalam tulisan tersebut.

“Tiba-tiba dia batuk kecil, muntah dan basahi rokku,”

Hari itu terasa indah bagiku, biarpun aku basah oleh kencing dan muntahannya, aku tetap tersenyum, bangga sekali. Kejadian itu berulang-ulang beberapa kali. Aku tak peduli apa kata orang di atas angkot, asalkan putriku bisa tumbuh sehat. Itu yang utama bagiku,” pungkas sang ibu dalam curahan hatinya yang ia tulis.

Sambil membaca, airmata Nanda mulai meleleh turun, hatinya terasa perih, dada sesak. Tiba-tiba dia berteriak keras, meraung-raung sejadi-jadinya, “Ibuuuuuuu…….ibuuuuu..!!!” sambil berdiri setengah berlari ke garasi.

Mendengar itu, Prabu pun sontak kaget melihat ulah istrinya dan bertanya : “Keeeenapa ma, ada apa???” Terisak dia menjawab “Aku harus bawa kembali ibuku”.

Tak lama kemudian, tiba-tiba telepon berdering, diterima suaminya lalu… “Mohon bapak dan ibu segera datang ke panti sekarang……cepat !!!,” kata orang yang di balik telepon itu.

Mereka pun akhirnya buru-buru ke panti. Saat masuk, nampak tubuh ibu tua sudah lemah, sedang diperiksa dokter.

Nanda berteriak histeris sambil menangis menahan air mata, “Ibuuuuu..!!,” ibunya lemah tanpa bersuara dan berusaha memeluk kepala anaknya seraya berbisik pelan dan bercucur air mata. “Anakku, ibu bangga punya kamu. Seluruh cinta kasih hanya buat kamu, nak. Maafkan ibu. iiiii…ibu saaayyyaaaang padamu,” tutup dia, sambil memejamkan mata, sang ibu pun menghembuskan nafas terakhirnya, dan meninggal dengan damai.

Anaknya meraung-raung keras sekali, menangis dan menyesal “Ibuu…! ibuu…! aku minta ampun buu…! aku durhaka sama ibu, ampun… ampuni aku bu. ibu, jangan tinggalkan aku buu!,” lirih dia.

“Anak macam apa aku ini. Anak macam apa. Ampun Buu… Ampuni Aku Ibuuu..!,” sesal Nanda.

 

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top